tracisbio

Berita dan Saran Kesehatan Terkini

Uncategorized

Fenomena “Electric Medicine” 2026: Alat Stimulasi Otak di Rumah yang Disetujui FDA, Alternatif Baru Antidepresan?

Gue inget banget, suatu malam gue ngobrol sama sepupu. Dia cerita kalau udah setahun lebih minum antidepresan. Efeknya? Depresinya sih lumayan turun. Tapi berat badannya naik 15 kilo. Gairah seksualnya hilang. Dan yang paling bikin dia frustrasi: dia ngerasa jadi “mati rasa”—nggak bisa nangis, nggak bisa marah, nggak bisa seneng beneran.

Dia bilang, “Gue kayak zombie, Ta.”

Gue diem. Nggak tahu harus jawab apa.

Sekarang, awal 2026, ada kabar yang mungkin bakal jadi jawaban buat sepupu gue—dan jutaan orang lain yang bernasib sama. FDA baru aja menyetujui dua alat stimulasi otak yang bisa dipakai di rumah . Iya, lo baca bener. Bukan di rumah sakit, bukan di klinik, tapi di ruang keluarga lo sambil minum kopi.

Inilah yang disebut “electric medicine”. Dan menurut gue, ini bukan sekadar teknologi baru. Ini adalah perubahan paradigma dalam cara kita ngobatin depresi.


Dua Alat, Dua Pendekatan

Jadi di bulan Desember 2025 sampai Januari 2026, FDA ngasih approval buat dua alat berbeda. Mereka punya target pasien yang sedikit beda.

1. Flow FL-100: Buat yang Baru Pertama Kali atau Mau Tambahan

Flow FL-100 dari perusahaan Flow Neuroscience ini adalah alat transcranial Direct Current Stimulation (tDCS) . Cara kerjanya? Ngirim arus listrik lemah ke korteks prefrontal—bagian otak yang ngatur mood dan respons stres .

Flow ini disetujui buat pasien depresi usia 18+ yang nggak termasuk kategori refractory (belum pernah dinyatakan kebal obat) . Bisa dipakai sebagai monotherapy (sendiri aja) atau tambahan dari obat yang udah diminum .

Yang menarik: sebenernya alat ini udah dipake di Eropa, Inggris, Swiss, dan Hong Kong sejak 2019. Total udah lebih dari 55.000 orang . Jadi bukan barang baru. Baru sekarang masuk AS.

2. ProlivRx: Buat yang Obatnya Udah Nggak Mempan

Nah, ini yang lebih spesifik. ProlivRx dari Neurolief Inc ini beda mekanismenya. Dia pake external Combined Occipital and Trigeminal Afferent Stimulation (eCOT-AS) . Simpelnya: dia stimulasi saraf di kepala bagian belakang (occipital) dan saraf trigeminal, yang konduksi impulsnya nyampe ke batang otak dan daerah yang ngatur mood .

ProlivRx ini khusus buat pasien depresi yang udah gagal merespons minimal satu obat antidepresan . Ini penting banget, karena buat pasien “treatment-resistant”, pilihannya selama ini terbatas: gonta-ganti obat (dengan efek samping baru), terapi kejut listrik (yang serem), atau TMS di klinik (yang mahal dan nggak semua orang bisa akses).


Data Klinis: Nggak Cuma Omong Kosong

Gue bukan dokter, tapi gue bisa baca angka. Dan angka-angka ini lumayan menjanjikan.

Untuk Flow FL-100

Studi klinis fase 2 yang dipublikasi di Nature Medicine (iya, jurnal bergengsi) ngelibatin 174 pasien dengan depresi sedang hingga berat . Mereka dibagi dua: yang pake alat beneran, dan yang pake sham (alat palsu).

Hasilnya setelah 10 minggu:

  • Perbaikan skor Hamilton Depression Rating Scale: 9,41 poin vs 7,14 poin di grup sham 
  • Tingkat remisi: 58% di grup aktif vs 29% di grup sham 
  • Response rate (penurunan gejala 50%): 64% di grup aktif vs 32% di grup sham 

Secara statistik, perbedaannya signifikan. P = 0,012. Buat yang nggak ngerti statistik: artinya kemungkinan hasil ini terjadi secara kebetulan itu kecil banget.

Data real-world dari 55.000 pengguna di Eropa juga bilang: 77% pasien ngalamin perbaikan dalam 3 minggu .

Untuk ProlivRx

Studi MOOD trial ngelibatin 124 orang dengan depresi yang nggak mempan obat . Setelah 8 minggu:

  • Tingkat remisi: 21,3% di grup aktif vs 6% di grup sham 
  • Perbaikan skor depresi: hampir 10 poin dari baseline 
  • Setelah fase open-label 8 minggu tambahan, tingkat remisi naik jadi 32% 

Dr. Linda Carpenter dari Brown University, salah satu peneliti utama, bilang: “Sekarang kita bisa nawarin pasien terapi ProlivRx dengan supervisi medis dan kenyamanan penggunaan di rumah” .


Cara Pakainya: Ribet Nggak Sih?

Gue tahu lo pasti mikir: “Ah, paling ribet. Harus pasang elektroda, harus kalibrasi, harus ini itu.”

Ternyata… nggak serumit itu.

Flow FL-100

Cara pakenya: lo pake headset kayak topi renang gitu. Ada elektroda yang nempel di kulit kepala. Terus lo colokin ke aplikasi di HP. Aplikasi ini yang ngatur durasi dan intensitas stimulasi .

Protokolnya:

  • 3 minggu pertama: 5 sesi per minggu
  • 7 minggu berikutnya: 3 sesi per minggu
  • Durasi per sesi: 30 menit 

Selama stimulasi, lo bisa ngapa-ngapain aja. Baca buku. Nonton Netflix. Minum kopi. Bahkan tidur kalau bisa.

Di aplikasi, lo juga bakal ditanyain gejala depresi tiap minggu pake kuesioner MADRS-s. Dokter lo bisa ngakses data ini dan ngatur parameter stimulasi dari jarak jauh .

ProlivRx

ProlivRx bentuknya juga headset. Tapi dia punya tiga pasang elektroda terintegrasi yang nyentuh kulit kepala di titik-titik tertentu . Dia stimulasi saraf occipital dan trigeminal secara bersamaan.

Pasien pake ini di rumah, tapi tetap dalam pengawasan dokter. Dokter yang ngatur parameternya, pasien tinggal pake .


Efek Samping: Aman Nggak?

Ini pertanyaan paling kritis. Apakah “nyetrum” otak sendiri di rumah itu aman?

Dari data klinis, efek sampingnya umumnya ringan dan sementara .

Untuk Flow:

  • Yang paling sering: sensasi menyengat, terbakar, atau gatal di tempat stimulasi
  • Kulit kering, iritasi, kemerahan (kalau pake terlalu lama)
  • Sakit kepala sementara 

Luka bakar bisa terjadi kalau bantalan elektroda dipake ulang padahal udah kering. Jadi jangan pelit, ganti aja sesuai aturan.

Untuk ProlivRx:

  • Sakit kepala (dilaporkan 5 peserta)
  • Sensasi terbakar
  • Migrain
  • Nyeri dan ketidaknyamanan 

Tiga peserta di grup aktif mundur karena sakit kepala atau migrain. Dua mundur karena depresi memburuk . Tapi nggak ada yang mundur karena risiko bunuh diri yang meningkat.

Dr. Mark George, profesor psikiatri di Medical University of South Carolina, bilang: “Terapi ini punya profil keamanan yang baik dan menjawab kebutuhan yang belum terpenuhi pada populasi pasien yang kurang terlayani” .


Harga dan Ketersediaan

Nah, ini yang mungkin bikin lo mikir ulang.

Flow FL-100

  • Harga: $500 – $800 
  • Ketersediaan: Q2 2026 (sekitar April-Juni 2026) 
  • Resep: Diperlukan dari dokter 

ProlivRx

  • Harga: Belum diumumkan resmi, pasti di atas $1000 (asumsi gue)
  • Ketersediaan: Early 2026, fokus awal ke sistem kesehatan dan program behavioral health 
  • Resep: Diperlukan dari dokter 

Flow bilang mereka lagi negosiasi sama perusahaan asuransi. Mudah-mudahan ada coverage partnership di awal 2026 .


Tiga Skenario: Siapa yang Cocok?

Gue coba kasih tiga contoh biar lebih kebayang.

Studi Kasus #1: Rina, 29 tahun, Depresi Pertama Kali

Rina baru 6 bulan didiagnosis depresi. Dokter kasih obat. Efeknya lumayan, tapi berat badannya naik 8 kilo. Dia malu. Mulai males ketemu temen.

Rina cocoknya Flow. Karena belum termasuk refractory, dan dia butuh opsi non-farmakologi. Dengan Flow, dia bisa coba terapi tanpa takut gemuk atau kehilangan gairah seksual.

Studi Kasus #2: Budi, 45 tahun, Udah Gonta-ganti 3 Obat

Budi udah minum 3 jenis antidepresan dalam 2 tahun. Nggak ada yang bener-bener work. Efek sampingnya macam-macam: dari mulut kering sampai disfungsi ereksi. Dokter bilang dia “treatment-resistant”.

Budi target pasar ProlivRx. Karena alat ini khusus dirancang buat yang udah gagal dengan minimal satu obat. Dan dia bisa pake di rumah, nggak perlu bolak-balik ke klinik TMS yang jauh dan mahal.

Studi Kasus #3: Sari, 35 tahun, Mau Tambahan

Sari udah minum obat dan rutin terapi. Hasilnya lumayan, tapi masih sering ngalamin hari-hari buruk. Dokter bilang dia bisa coba tambahan terapi.

Sari bisa pake Flow sebagai adjunctive treatment—tambahan dari obat yang udah diminum . Studi bilang hasilnya positif bahkan pada pasien yang juga lagi terapi atau minum obat .


Tapi Jangan Keburu GeEr: 4 Hal yang Harus Lo Tahu

Gue harus kasih disclaimer di sini.

1. Bukan Buat Semua Orang

Flow cuma buat yang nggak refractory . ProlivRx buat yang udah gagal dengan minimal satu obat . Jadi nggak bisa asal beli.

Dan dua-duanya butuh resep. Nggak bisa beli online terus pake sendiri tanpa pengawasan dokter.

2. Masih Ada Efek Samping

Walaupun ringan, efek sampingnya tetap ada. Sakit kepala, iritasi kulit, sensasi terbakar. Ini nggak enak. Tapi mungkin lebih enak daripada impotensi atau naik 15 kilo.

3. Efektivitasnya Bervariasi

Data 58% remisi itu bagus. Tapi artinya 42% lainnya nggak remisi. Ada yang cuma respon parsial. Ada yang nggak respon sama sekali. Ini bukan magic bullet.

4. Akses Masih Terbatas di Awal

Q2 2026 itu artinya kita masih nunggu. Dan distribusi awal mungkin fokus ke AS dulu. Di Indonesia? Mungkin butuh waktu lebih lama. Atau lo harus punya kenalan yang bisa bawain.


5 Hal yang Bisa Lo Lakukan Sekarang

Buat lo yang lagi baca dan ngerasa ini relevan, gue kasih saran praktis.

1. Diskusi Sama Dokter Lo

Jangan tiba-tiba beli alat ini terus pake sendiri. Bicarain sama psikiater lo. Tanyain apakah lo kandidat yang cocok. Minta pendapat profesional.

2. Catat Riwayat Pengobatan

Buat catatan: obat apa aja yang udah lo coba, berapa dosisnya, gimana responsnya, efek samping apa yang muncul. Ini penting buat nentuin lo masuk kategori mana.

3. Jangan Berhenti Obat Mendadak

Kalau lo tertarik sama alat ini, jangan stop obat sendiri. Terapi ini dirancang sebagai tambahan atau alternatif dengan pengawasan dokter. Bukan buat ganti sendiri di rumah.

4. Pantau Perkembangan Regulasi

Follow akun-akun yang ngasih update soal FDA approval. Kadang produk masuk Indo lewat jalur khusus atau distributor tertentu. Lo bisa jadi yang pertama tahu kalau rajin mantau.

5. Kelola Ekspektasi

Ingat: 58% remisi itu angka bagus. Tapi 42% nggak remisi. Ini alat, bukan mukjizat. Tapi buat sebagian orang, ini mungkin jawaban yang selama ini dicari.


Ini Bukan Revolusi, Tapi Evolusi Besar

Gue nggak mau lebay bilang ini “akhir dari obat antidepresan”. Karena nggak. Obat masih bakal dipake. Terapi masih bakal jalan. TMS di klinik masih ada.

Tapi ini adalah perluasan akses yang signifikan.

Bayangin: selama ini, kalau obat nggak mempan, lo harus ke klinik khusus buat TMS. Itu mahal. Jauh. Ribet. Banyak orang putus di tengah jalan karena nggak sanggup bolak-balik.

Sekarang, dengan alat ini, terapi neuromodulasi bisa dilakukan di rumah. Sambil rebahan. Sambil ngopi. Sambil nonton series.

Dr. Linda Carpenter bilang: “ProlivRx memperkenalkan paradigma pengobatan baru dengan membuat neuromodulasi berbasis bukti dapat diakses secara luas, di luar dinding klinik spesialis” .

Ini bukan cuma soal teknologi. Ini soal demokratisasi kesehatan mental.


Jadi, Apakah Ini Jawaban?

Gue nggak tahu jawaban buat semua orang.

Tapi buat sepupu gue yang ngerasa jadi zombie karena obat? Mungkin ini jawaban. Buat Budi yang udah gonta-ganti 3 obat tapi nggak mempan? Mungkin ini jawaban. Buat Rina yang takut gemuk karena efek samping? Mungkin ini jawaban.

Yang jelas, buat pertama kalinya dalam sejarah, orang dengan depresi punya pilihan: mengobati otak mereka tanpa harus minum pil setiap hari. Dengan efek samping minimal. Dengan kenyamanan rumah sendiri.

FDA udah setuju. Data udah ada. Alatnya udah siap.

Sekarang tinggal nunggu: apakah sistem kesehatan kita siap? Apakah dokter kita tahu? Apakah asuransi kita mau cover?

Dan yang paling penting: apakah lo—atau orang yang lo sayangi—siap mencoba?


Gue masih mikirin sepupu gue. Belum gue kasih tahu berita ini. Mungkin besok gue telpon dia. Kasih link artikel. Bilang, “Lo nggak sendiri. Dan sekarang ada pilihan baru.”

Kalau lo punya pengalaman dengan depresi—atau punya orang terdekat yang ngalamin—bagi cerita lo di kolom komentar. Mungkin dari situ kita bisa saling support. Karena kesehatan mental itu bukan perjalanan sendiri. Kita lewatin bareng-bareng.